Tebingtinggi │bidikinfonews.xyz/ Jum’at, 28 November 2025 — Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara sejak dua hari terakhir mulai menunjukkan tanda-tanda surut. Namun, surutnya air tidak sepenuhnya menghapus luka dan kehilangan yang ditinggalkan. Sejumlah wilayah mengalami kerusakan, sebagian warga kehilangan harta benda, dan lebih menyayat lagi—ada yang kehilangan nyawa akibat longsor maupun terseret arus banjir.
Di Kota Tebing Tinggi, terutama di kawasan pemukiman rendah dan daerah dekat bantaran sungai, banjir memaksa warga bertahan dalam kondisi serba terbatas. Banyak dari mereka tidak sempat mengungsi ke lokasi lebih tinggi karena hujan turun mendadak tengah malam, membawa air yang naik cepat tanpa peringatan memadai.
Di Kelurahan Mandailing, Kecamatan Tebingtinggi Kota, cerita lain yang lebih memilukan muncul. Bukan hanya soal air yang merendam rumah, tetapi tentang manusia—tentang rasa lapar, cemas, pasrah, dan ketidakberdayaan.
Seorang ayah duduk diam dalam remang lampu darurat di sebuah rumah yang masih tergenang setinggi pinggang orang dewasa. Istri dan anaknya yang semalaman tidak tidur karena takut air makin naik, pelan-pelan berkata bahwa mereka lapar. Kalimat sederhana yang dalam situasi normal mungkin terdengar sepele, kini terasa seperti palu yang menghantam nurani—karena sang ayah tidak bisa melakukan apa-apa.
Di luar rumah, banjir menutup akses jalan. Warung tidak buka. Kompor tidak bisa dinyalakan. Logistik tidak bisa dijangkau. Semua serba lumpuh.
Bantuan memang mulai datang dari pemerintah daerah, aparat, dan relawan. Namun distribusi di beberapa titik dilaporkan tidak berjalan optimal.
Di salah satu lingkungan, bantuan berupa nasi bungkus dibagikan hanya satu paket per rumah, tanpa mempertimbangkan jumlah penghuni. Satu keluarga dengan empat hingga enam orang hanya mendapatkan satu porsi yang harus dibagi bersama.
Sejumlah warga menilai hal tersebut terjadi karena tidak adanya pendataan jumlah korban banjir secara rinci per rumah maupun per kepala keluarga, sehingga proses distribusi tidak mencerminkan kebutuhan riil.
“Kami bukan menuntut mewah. Bukan ingin banyak. Yang kami butuhkan hanya makanan yang cukup, karena kami tidak bisa masak dan tidak bisa keluar rumah. Itu saja,” ujar salah satu warga link V saat ditemui di dalam rumah nya.
Di sisi lain, pemerintah kelurahan dan kecamatan menyampaikan bahwa mereka juga terkendala akses. Jalan tergenang, arus deras, serta beberapa petugas yang turut terdampak banjir menjadi faktor penghambat. Upaya pendistribusian bantuan disebut akan diperbaiki agar lebih merata.
Relawan dari berbagai komunitas juga mulai mendatangi lokasi banjir sejak malam. Sebagian membawa makanan siap saji, bagi warga lanjut usia dan anak-anak yang mulai menunjukkan gejala flu akibat dingin berkepanjangan.
Namun rasa lelah, trauma, dan ketidakpastian masih menghantui. Sebagian warga memilih tetap berjaga sambil memperhatikan ketinggian air, khawatir jika curah hujan kembali meningkat dan banjir susulan terjadi.
Banjir kali ini bukan sekadar fenomena alam. Ia adalah cermin sistem kesiapsiagaan, koordinasi bantuan, empati sosial, dan tata kelola mitigasi bencana.
Di antara gelombang air, ada suara-suara lirih warga yang berharap: agar negara hadir bukan hanya berupa formalitas, tetapi sebagai tangan yang benar-benar memahami kebutuhan mereka.
Hingga berita ini diterbitkan, kondisi air di sejumlah titik mulai menurun, namun warga masih menunggu kepastian—bahwa bantuan datang bukan hanya sekali lewat, melainkan sesuai kebutuhan mereka hingga kondisi benar-benar pulih.
Karena bagi mereka yang masih bertahan di rumah tergenang, banjir bukan hanya soal air.
Ia tentang “harapan yang diuji”.,
Share Social Media
