Tebing Tinggi | bidikinfonews. xyz /
Di Tebing Tinggi, menjadi kepala lingkungan (kepling) ternyata bukan soal dekat dengan warga, rajin ronda, atau hafal lubang parit. Belum sempat menyapa pemilih, belum sempat pasang senyum kampanye—berkas duluan tumbang. KO teknis. Tanpa hitungan wasit.
Panitia Musyawarah Pencalonan (Panmus) Kepling tahun ini layak diberi julukan “VAR Administrasi”. Sembilan orang duduk mengelilingi meja, bukan untuk berdebat visi misi, tapi membedah map berkas seperti dokter bedah forensik. Salah satu huruf nama? Curiga. Nama orang tua beda ejaan? Bahaya. Dokumen tidak sinkron? Silakan pulang dengan elegan.
Panmus ini bukan sembarang panitia. Isinya komplet: Ketua LPM, Karang Taruna, TP PKK, aparat kelurahan, perwakilan kecamatan, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat. Kalau ini film, judulnya “Sembilan Pendekar Administrasi”. Mereka tidak membawa pedang, tapi pulpen dan stempel—senjata paling mematikan dalam dunia birokrasi.
Drama paling terasa di Kelurahan Mandailing, Kecamatan Tebing Tinggi Kota. Sejumlah bakal calon harus menelan pil pahit: gugur sebelum peluit dibunyikan. Bukan karena kurang dukungan warga, tapi karena dokumen dianggap tak meyakinkan. Di sinilah kepling belajar satu pelajaran mahal: di negeri berkas, kertas lebih berkuasa daripada karisma.
Yang bikin tambah greget, semua pemeriksaan dilakukan secara mendadak pada Minggu, 21 Desember 2025. Minggu, saudara-saudara. Saat sebagian warga sibuk dengan kopi dan gorengan, Panmus justru sprint administratif. Penyebabnya klasik tapi sakti: pergantian kepemimpinan daerah. Wali Kota melantik lurah dan pengurus TP PKK kecamatan secara tiba-tiba, dan jadwal kepling pun ikut terjun bebas. Targetnya jelas: semua tahapan harus kelar sebelum 23 Desember 2025. Tak ada kompromi. Tak ada perpanjangan waktu. Administrasi tak kenal libur.
Bagi yang lolos saringan berkas, jangan dulu pesta. Masih ada dua rintangan menghadang: ujian tertulis dan wawancara. Di sini, bukan hanya Panmus yang menilai, tapi juga tokoh agama dan tokoh masyarakat. Lengkap sudah. Kalau gugup, salah jawab, atau terlalu banyak “ee… anu…”, ya silakan evaluasi diri.
Sekadar catatan pinggir: Kota Tebing Tinggi memiliki 169 lingkungan di 35 kelurahan dan lima kecamatan. Kursi kepling memang banyak, tapi jalannya licin. Siapa yang mengira jabatan paling dekat dengan warga justru dimulai dari pertarungan paling dingin: meja administrasi.
Mungkin inilah pesan tak tertulisnya:Sebelum bicara melayani rakyat, rapikan dulu nama di ijazah.Sebelum berjanji menjaga lingkungan, pastikan akta kelahiran tak salah ketik.Karena di Tebing Tinggi hari ini, kepling bukan tumbang di lapangan—tapi di map berkas.
— Wartawan yang sudah lama percaya: demokrasi lokal sering kali ditentukan oleh satu huruf yang salah ketik.
( Binews )
Share Social Media