
Tebing Tinggi | bidikinfonews. xyz / – Minggu (11/01/2025), suasana pagi di Lingkungan III dan V Kelurahan Mandailing bergerak sedikit berbeda. Bukan sekadar rutinitas harian, melainkan aktivitas gotong royong yang dipimpin langsung oleh Camat Tebingtinggi Kota, Henci Br Siregar, S.Pd, bersama Lurah Mandailing, Yurlisna S.E, perangkat lingkungan, dan masyarakat sekitar.
Di tengah denyut Tebing Tinggi yang terus berkembang—dengan segala tantangan kotanya—kegiatan semacam ini bukan sekadar seremonial membersihkan sampah. Lebih jauh dari itu, ia membawa pesan yang ingin mengakar dalam kesadaran bersama: bahwa hidup bersih adalah akhlak sosial.
“Kegiatan ini merupakan langkah perdana kami dalam memberikan motivasi dan edukasi kepada masyarakat, khususnya untuk menumbuhkan kesadaran bahwa akhlak hidup bersih harus menjadi perhatian utama bersama,” ujar Camat Henci kepada BidikInfoNews.
Sampah, Disiplin, dan Beban Kolektif
Di hadapan warga, Camat menegaskan dua harapan mendasar :
Pertama, masyarakat tidak lagi membuang sampah sembarangan, sebab membersihkan tanpa mengubah perilaku ibarat menyapu angin — kerja tak pernah selesai, dan hanya menambah beban.
“Apabila kita terus membersihkan lalu membuang kembali sampah di tempat yang tidak semestinya, hal tersebut justru akan menambah beban pekerjaan kita sendiri,” jelasnya.

Kedua, soal sistem pembuangan sampah yang tak lagi boleh menumpuk di ruas jalan. Menurutnya, sampah harus langsung menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA), bukan transit di pinggir kota.
“Perlu adanya sinkronisasi dan kerja sama yang baik. Saya sudah menyampaikan kepada Kasi Pemerintahan agar kita dapat berkoordinasi langsung dengan Dinas Lingkungan Hidup,” ungkapnya.
Potret Lapangan: Jalan, Lalat, dan Selokan
Dalam peninjauan lapangan, BidikInfoNews mencatat pernyataan Camat yang menemukan tumpukan sampah di beberapa ruas jalan lintas, memicu bau dan lalat — persoalan yang sering dianggap kecil, namun dampaknya besar bagi kesehatan dan citra kota.
“Saya tidak ingin kondisi tersebut terus terjadi di jalan umum. Biarlah pengelolaan sampah dilakukan dengan baik dan terpusat di TPA,” tegasnya.
Di sisi lain, persoalan banjir di Lingkungan V juga mengemuka. Hujan memang tak bisa ditahan, namun aliran air bisa ditertibkan. Camat menyebut banyak selokan tersumbat sampah, hasil dari peninjauan langsung dengan berjalan kaki dari kantor camat.
Masalah yang tampak sederhana ini sesungguhnya adalah gambaran ekologi sosial : ketika sampah tak sekadar benda, tetapi simbol kurangnya disiplin manusia terhadap lingkungannya.
Jangka Panjang: Tebing Tinggi yang Tertib
Camat Henci menyebut bahwa disiplin dan kebersihan adalah dua fokus utama dalam wilayah kerjanya. Dua kata ini, bila dibangun perlahan namun pasti, dapat membentuk wajah kota yang berbeda.
“Saya ingin Tebing Tinggi menjadi lebih tertib, bersih, dan nyaman sesuai harapan kita bersama,” katanya.
Program kebersihan ini akan dijalankan secara berkelanjutan, bukan spontan dan musiman. Pemerintah kecamatan membuka ruang partisipasi masyarakat, sebab perubahan perilaku tidak lahir dari satu pihak saja, melainkan dari kerja kolektif.
Pada akhirnya, ada kesadaran yang coba dibangkitkan: kota bersih bukan soal siapa yang menyapu, tetapi siapa yang tidak mengotori. Dan di tempat yang kita sebut rumah — Tebing Tinggi — kebersihan adalah bentuk cinta paling sederhana kepada lingkungan tempat kita hidup.
( Binews )
Share Social Media