Tebing Tinggi | bidikinfonews.xyz/ —Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tebing Tinggi menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Ruang Rapat DPRD setempat, Jumat (9/1/2026), menyikapi video viral yang memuat dugaan penolakan pasien oleh Rumah Sakit H. Kumpulan Pane (RSKP).
Video yang beredar di media sosial pada Kamis (8/1/2026) itu menampilkan situasi seorang pasien yang diduga tidak segera mendapatkan pelayanan medis. Cuplikan tersebut memicu reaksi publik, terutama soal standar pelayanan kesehatan dan prosedur emergensi di daerah.
RDP dihadiri oleh Direktur UPTD RSUD dr. H. Kumpulan Pane, drg. Lili Marliana; Kepala Dinas Kesehatan Kota Tebing Tinggi, dr. Fitri Sari Saragih, M.Kes; Ketua DPRD Sakti Khadafi; serta sejumlah anggota fraksi DPRD.
Suasana rapat berjalan dinamis. Beberapa anggota legislatif mempertanyakan tata operasional medis dan manajemen pelayanan publik di RSKP. Bahkan sejumlah anggota fraksi secara terbuka meminta drg. Lili Marliana mengundurkan diri dari jabatannya dengan alasan lemahnya pembenahan internal dan buruknya citra pelayanan.
Sebelumnya, drg. Lili baru sekitar dua bulan menjabat sebagai Direktur RSKP setelah dilantik oleh Wali Kota Tebing Tinggi, H. Imam Irdian Saragih, S.E. Fakta itu turut menjadi bahan sorotan—sebagian pihak menganggap periode tersebut terlalu singkat untuk menilai kinerja, sementara pihak lain menyebut persoalan pelayanan sudah terjadi bertahun-tahun sebelum yang bersangkutan menjabat.
DPRD menilai dugaan penolakan pasien merupakan persoalan serius yang mencoreng pelayanan publik sektor kesehatan. Untuk itu DPRD meminta adanya penjelasan resmi dari pihak RSKP maupun Dinas Kesehatan guna menghindari simpang siur informasi di tengah masyarakat.

Dalam rapat, drg. Lili menyampaikan klarifikasi. Menurutnya, peristiwa yang viral tersebut bukanlah penolakan pasien, melainkan kesalahpahaman komunikasi di lapangan.
“Petugas kami menyampaikan bahwa ruang rawat saat itu penuh. Sebagai solusi, pasien bisa diobservasi sementara di UGD, atau bila keluarga menghendaki kenyamanan lebih bisa memilih rumah sakit lain,” ujarnya.
Pihak manajemen RSKP sebelumnya juga telah mengeluarkan pernyataan resmi bahwa rumah sakit tidak pernah menolak pasien, terutama dalam kondisi darurat. Pasien dalam video diketahui bernama Suheli (66), warga Berohol, yang sebelumnya pernah menjalani perawatan di RSKP sehingga keluarga kembali memilih fasilitas tersebut.
Hingga rapat ditutup, DPRD belum memperoleh jawaban dari drg. Lili terkait desakan pengunduran diri yang disampaikan sebagian anggota fraksi.
Ketidakjelasan itu sempat memantik tensi rapat, mengingat sebagian anggota DPRD menyampaikan sikap secara frontal, yang oleh sejumlah peserta dinilai dapat berpotensi menimbulkan interpretasi intervensi terhadap jabatan struktural ASN.
Karena bertepatan dengan waktu pelaksanaan salat Jumat, rapat ditutup sementara dan DPRD berencana menggelar rapat internal tertutup untuk menentukan langkah selanjutnya.
( Binews / Y. Abdi )
Share Social Media