Tebing Tinggi | bidikinfonews. xyz /
Di Tebing Tinggi, menjadi kepala lingkungan (kepling) ternyata bukan soal dekat dengan warga, rajin ronda, atau hafal lubang parit. Belum sempat menyapa pemilih, belum sempat pasang senyum kampanye—berkas duluan tumbang. KO teknis. Tanpa hitungan wasit.
Panitia Musyawarah Pencalonan (Panmus) Kepling tahun ini layak diberi julukan “VAR Administrasi”. Sembilan orang duduk mengelilingi meja, bukan untuk berdebat visi misi, tapi membedah map berkas seperti dokter bedah forensik. Salah satu huruf nama? Curiga. Nama orang tua beda ejaan? Bahaya. Dokumen tidak sinkron? Silakan pulang dengan elegan.
Panmus ini bukan sembarang panitia. Isinya komplet: Ketua LPM, Karang Taruna, TP PKK, aparat kelurahan, perwakilan kecamatan, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat. Kalau ini film, judulnya “Sembilan Pendekar Administrasi”. Mereka tidak membawa pedang, tapi pulpen dan stempel—senjata paling mematikan dalam dunia birokrasi.
Drama paling terasa di Kelurahan Mandailing, Kecamatan Tebing Tinggi Kota. Sejumlah bakal calon harus menelan pil pahit: gugur sebelum peluit dibunyikan. Bukan karena kurang dukungan warga, tapi karena dokumen dianggap tak meyakinkan. Di sinilah kepling belajar satu pelajaran mahal: di negeri berkas, kertas lebih berkuasa daripada karisma.
