”Listrik Mati-Hidup Bertahun-tahun, Warga Panai Hilir: Apa Kabelnya Dimakan “Binatang Buas” Terus?
Labuhan Batu | BidikInfoNews.xyz — 30 Agustus 2026. Masyarakat Kecamatan Panai Hilir, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara, kembali dibuat gerah dengan kondisi kelistrikan yang tak kunjung normal.
Bukan sekali-dua kali, pemadaman listrik disebut warga terjadi hampir setiap hari, bahkan dalam satu hari bisa mencapai 10 kali mati-hidup.
Kondisi tersebut bukan baru terjadi kemarin sore. Menurut sejumlah warga, persoalan listrik mati-hidup di wilayah Panai Hilir, khususnya kawasan Sei Berombang, sudah berlangsung bertahun-tahun. Warga pun mulai bertanya-tanya, apakah mereka sedang menikmati layanan listrik atau justru sedang mengikuti “program latihan kesabaran” dari tahun ke tahun.
Bagi masyarakat, listrik bukan sekadar soal lampu menyala atau mati. Aktivitas rumah tangga, usaha kecil, pekerjaan, pendidikan anak, hingga berbagai kebutuhan masyarakat sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil.
Namun ketika listrik dalam sehari bisa padam berkali-kali, warga mengaku bukan hanya terganggu, tetapi juga mulai merasa dirugikan.
“Dalam sehari bisa sampai 10 kali mati hidup. Kami masyarakat Panai Hilir sangat kecewa. Kondisi ini sudah lama sekali terjadi, tetapi sampai sekarang belum ada solusi yang benar-benar menyelesaikan persoalan,” ungkap seorang warga.
Menurut warga, pemadaman listrik yang terjadi berulang-ulang juga menimbulkan kekhawatiran terhadap kerusakan peralatan elektronik di rumah maupun tempat usaha.
Televisi, kulkas, mesin pompa air, komputer, perangkat jaringan internet dan berbagai peralatan elektronik lainnya disebut berpotensi mengalami kerusakan akibat aliran listrik yang tidak stabil.
Belum lagi persoalan lainnya yang membuat warga waswas, yakni kemungkinan terjadinya korsleting listrik yang dapat memicu kebakaran.
“Kerugian kami cukup besar. Barang elektronik bisa rusak, aktivitas terganggu, dan kami juga khawatir kalau listrik mati-hidup seperti ini terus terjadi, jangan sampai terjadi korsleting dan kebakaran. Apakah kondisi seperti ini tidak menjadi perhatian?” kata warga tersebut.
Jawaban “Binatang Buas” Bikin Warga Geleng-Geleng Kepala
Yang membuat sebagian warga semakin heran adalah penjelasan yang mereka terima ketika menyampaikan keluhan kepada pihak PLN Kacab Labuhan Bilik.

Menurut pengakuan warga, pihak PLN pernah menyampaikan bahwa gangguan listrik disebabkan oleh binatang buas yang memakan atau mengganggu kabel jaringan listrik.
Pernyataan tersebut sontak membuat warga bertanya-tanya.
Kalau gangguan akibat binatang memang menjadi salah satu penyebab, warga mempertanyakan bagaimana persoalan tersebut bisa berulang selama bertahun-tahun.
“Kalau memang setiap hari penyebabnya binatang buas yang memakan kabel listrik, kami juga jadi heran. Selama puluhan tahun, berapa banyak binatang yang sudah ‘berurusan’ dengan kabel listrik? Kabelnya dimakan, listriknya mati, lalu hidup lagi. Apa iya ceritanya seperti itu terus?” ujar seorang warga dengan nada heran.
Pertanyaan warga tersebut tentu bukan untuk menertawakan gangguan teknis yang mungkin saja benar-benar terjadi, melainkan mempertanyakan mengapa gangguan yang sama seolah tidak pernah menemukan solusi permanen.
Sebab, bagi masyarakat, penjelasan mengenai penyebab gangguan saja belum cukup. Warga membutuhkan langkah nyata agar persoalan tidak terus berulang.
Warga Minta Pemerintah Turun Tangan
Masyarakat Panai Hilir berharap Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tidak tinggal diam melihat keluhan tersebut.
Warga meminta Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution memberikan perhatian terhadap kondisi kelistrikan di Kecamatan Panai Hilir, khususnya wilayah Sei Berombang.
Selain itu, warga juga berharap pihak berwenang melakukan pengawasan dan pemeriksaan apabila memang ditemukan persoalan pelayanan atau gangguan teknis yang tidak kunjung terselesaikan.
“Kami memohon kepada Bapak Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution dan pihak Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara agar dapat memperhatikan persoalan ini. Kalau memang ada masalah dalam pelayanan atau pengelolaan jaringan listrik, tolong diperiksa dan dicari solusinya,” ujar warga.
Warga menegaskan, persoalan tersebut bukan bermaksud menyudutkan pihak tertentu, tetapi murni karena masyarakat membutuhkan pelayanan listrik yang aman, stabil dan dapat diandalkan.
Masyarakat juga mempertanyakan, mengapa persoalan pemadaman yang disebut sudah berlangsung cukup lama belum mendapatkan penyelesaian yang benar-benar tuntas.
“Masalah ini sudah cukup lama. Masa sampai sekarang tidak ada penyelesaian permanen? Kami hanya ingin listrik normal. Jangan setiap hari mati hidup seperti sedang memainkan saklar lampu,” tegas warga lainnya.
Jangan Sampai Warga Terbiasa Hidup dalam Gelap
Listrik padam sesekali mungkin masih bisa dimaklumi apabila terjadi karena gangguan teknis, cuaca, pemeliharaan jaringan atau keadaan darurat lainnya.
Namun apabila pemadaman terjadi berulang kali dalam satu hari dan berlangsung dalam jangka waktu panjang, tentu masyarakat berhak mendapatkan penjelasan yang jelas sekaligus solusi yang terukur.
Warga Panai Hilir berharap pihak PLN tidak hanya memberikan penjelasan mengenai penyebab gangguan, tetapi juga menyampaikan apa langkah perbaikan yang dilakukan, kapan jaringan diperbaiki, dan bagaimana memastikan gangguan serupa tidak terus berulang.
Sebab, masyarakat bukan meminta kemewahan.
Mereka hanya meminta sesuatu yang sederhana: listrik menyala dengan normal.
Jangan sampai masyarakat Panai Hilir harus menghitung berapa kali listrik padam setiap hari, seolah-olah sedang mencatat skor pertandingan.
10 kali mati dalam sehari bukan lagi sekadar soal lampu padam. Bagi warga, itu adalah persoalan pelayanan publik, kenyamanan, keamanan dan potensi kerugian yang perlu mendapat perhatian serius.
Masyarakat Panai Hilir, khususnya warga Sei Berombang, pun berharap persoalan tersebut segera mendapatkan solusi.
Mereka ingin rumah kembali terang, usaha kembali berjalan, peralatan elektronik tetap aman, dan yang paling penting, kekhawatiran terhadap kemungkinan korsleting maupun kebakaran akibat kondisi kelistrikan yang tidak stabil dapat diminimalkan.
Kini pertanyaannya sederhana: sampai kapan warga Panai Hilir harus bermain “mati-hidup” dengan listrik?
( Denny )
Share Social Media