Tebing Tinggi | bidikinfonews.xyz – 11 Agustus 2025 Krisis air bersih kembali menghantui warga Kampung Baris, Dusun III, Desa Naga Kesiangan, Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Serdang Bedagai. Bak umum yang dulunya menjadi sumber air bersih utama, kini telah bertahun-tahun terbengkalai. Ironisnya, fasilitas itu dibangun oleh PTPN IV Pabatu atas permintaan warga sendiri, namun kini justru dibiarkan rusak tanpa perbaikan.
Di tengah musim kemarau yang semakin parah, air sumur warga berubah menjadi keruh, berbau, bahkan tak jarang mengandung endapan yang tak layak konsumsi. Kondisi ini membuat banyak keluarga terpaksa membeli air bersih dari luar dengan harga yang cukup memberatkan.
Jejak Historis: Janji Perusahaan kepada Warga
Pembangunan bak umum ini bukanlah inisiatif sepihak, melainkan buah dari dialog panjang antara warga Kampung Baris dengan pihak PTPN IV Pabatu sekitar satu dekade lalu. Kampung Baris sendiri berada di wilayah yang berbatasan langsung dengan pembuangan limbah pabrik kelapa sawit milik perusahaan tersebut.
Sebagai bentuk kepedulian—atau kompensasi tak resmi—atas dampak lingkungan yang dirasakan warga, PTPN IV mengabulkan permintaan pembangunan bak Umum lengkap dengan pompa dan jaringan pipa distribusi. Fasilitas ini pada awalnya menjadi kebanggaan warga. Air bersih mengalir lancar, dan Masyarakat tak lagi khawatir saat kemarau tiba.

Namun, seiring waktu, tanpa perawatan berkala, pompa air mulai mengalami kerusakan. Satu demi satu pipa saluran patah, bak penampungan menjadi kotor, dan lumut memenuhi dindingnya. Sekitar lima tahun lalu, aliran air berhenti total. Hingga kini, tak ada tanda-tanda perbaikan dari pihak perusahaan maupun pemerintah desa.
Suara Warga: Rindu pada Air Bersih
Abdilla Shandy (38), warga setempat, mengenang masa ketika bak umum masih berfungsi.
“Dulu kalau musim kemarau, kami tetap bisa mandi dan mencuci tanpa khawatir. Airnya jernih. Sekarang, sumur kami keruh, bau, dan kadang warnanya kuning. Anak-anak sering gatal-gatal kalau mandi,” ungkapnya.
Menurut Abdilla, kerusakan fasilitas ini sudah berulang kali disampaikan kepada pemerintah Desa dan pihak perusahaan. Namun, respons yang diterima warga sebatas janji-janji tanpa realisasi.
“Kami tidak minta yang muluk-muluk. Cukup pompa airnya diganti dan salurannya diperbaiki. Kami siap menjaga dan merawatnya,” tegasnya.
Krisis Air di Bayang-bayang Limbah Sawit
Kampung Baris bukan hanya berhadapan dengan masalah kekeringan saat kemarau, tapi juga persoalan kualitas air. Letaknya yang berada di sekitar area pembuangan limbah sawit membuat kekhawatiran warga bertambah. Mereka khawatir sumber air tanah yang digunakan untuk sumur pribadi telah terkontaminasi.
Sejumlah warga mengaku, warna air sumur kerap berubah menjadi kekuningan dan berbau menyengat, terutama saat musim kemarau panjang. Dugaan pencemaran ini belum pernah diteliti secara resmi, namun menjadi rahasia umum di kalangan warga bahwa kedekatan lokasi dengan limbah pabrik sawit bukanlah kebetulan.

Tanggung Jawab yang Terabaikan
Pengamat lingkungan lokal menilai, PTPN IV sebagai Badan Usaha Milik Negara memiliki tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility/CSR) terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasinya. Perawatan fasilitas bak umum adalah bentuk tanggung jawab minimal yang seharusnya dilakukan.
Jika fasilitas ini terus dibiarkan rusak, maka dampaknya bukan hanya kesehatan warga, tapi juga kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan dan pemerintah.
“Ini soal komitmen. Ketika fasilitas dibangun sebagai bentuk kepedulian, maka perawatan adalah bagian dari komitmen itu,” ujar salah satu aktivis lingkungan yang enggan disebut namanya.
Harapan Warga: Perbaikan, Bukan Pembangunan Baru
Bagi warga Kampung Baris, perbaikan bak umum jauh lebih cepat dan hemat dibanding membangun fasilitas baru dari Nol. Mereka mengusulkan agar pihak perusahaan bekerja sama dengan pemerintah desa untuk memperbaiki pompa air, membersihkan bak, dan memperbarui jaringan pipa.
Dengan langkah itu, krisis air bersih di Kampung Baris dapat segera teratasi tanpa harus menunggu proyek besar yang memakan waktu dan anggaran lebih banyak.
Catatan Redaksi:
Kebutuhan air bersih adalah hak dasar setiap warga negara. Saat fasilitas yang dibangun dari uang rakyat maupun dana perusahaan negara dibiarkan mangkrak, maka yang tergerus bukan hanya fungsi fasilitas itu sendiri, tapi juga rasa keadilan. Semoga pihak terkait segera mengambil langkah konkret sebelum kemarau berkepanjangan berubah menjadi bencana kesehatan di Kampung Baris.
( BINews/ M.Syahrul )
Share Social Media
