
☝☝▶️▶️ klik Audio
Tebingtinggi | bidikinfonews.xyz/ 3 Desember 2025.
Hutan dan seluruh hewan yang hidup di dalamnya bukan sekadar bagian dari bentangan bumi. Mereka adalah ciptaan Allah SWT — Tuhan Semesta Alam — yang diturunkan sebagai penyeimbang kehidupan. Mereka saling mendukung, saling menjaga rantai kehidupan agar tetap utuh, agar alam tetap berputar dengan harmoni sebagaimana kehendak-Nya.
Seekor semut, makhluk kecil yang kerap dipandang remeh, tidak pernah mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ia tidak tamak, tidak serakah, dan tidak pernah menimbun melebihi kebutuhan koloninya. Bahkan pemimpin dalam koloni semut tidak memikirkan dirinya terlebih dahulu; ia mendahulukan keselamatan kelompoknya sebelum dirinya sendiri. Ada adab, ada etika kehidupan yang melekat dalam naluri ciptaan kecil itu—sebuah moral ekologis yang bahkan lebih tinggi dibandingkan perilaku sebagian manusia hari ini.
Bandingkan itu dengan manusia. Makhluk yang diberi akal, kehendak, dan amanah sebagai khalifah di bumi. Namun karena kerakusan dan ambisi pribadi, manusia sering berlaku sebaliknya.
Hutan ditebang tanpa kendali, sungai diracuni limbah, tanah dirampas atas nama kepentingan, dan kekayaan alam dikuras tanpa memikirkan masa depan generasi berikutnya. Yang terlintas di pikirannya hanyalah bagaimana memenuhi hasrat dan kerakusan, seolah bumi diwariskan hanya untuk ditaklukkan—bukan dijaga.
Maka tidak mengherankan ketika bencana datang silih berganti; banjir, tanah longsor, gagal panen, udara kotor, hingga kepunahan satwa. Semua merupakan bagian dari konsekuensi yang lahir dari tangan-tangan manusia yang lupa diri.
Allah bahkan telah mengingatkan dengan tegas dalam Surat Ar-Rum ayat 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia; supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini bukan sekadar peringatan—tetapi cermin. Cermin untuk kita bercermin apakah kita masih menjalankan amanah sebagai penjaga bumi atau justru menjadi perusaknya.
Perumpamaan sederhana bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika secangkir kopi susu diletakkan, Oleh Pimpinan Umum Media Bidik Info News, semut tidak serta-merta merubunginya. Semut menunggu hak pertama yang telah ditetapkan untuk manusia. Barulah setelahnya, ketika manusia lalai menyisakan titipan rezeki Tuhan itu, semut pun mendekat dengan adab dan keteraturan.
Di sini tersimpan pelajaran penting: menjadi pemimpin bukan tentang memerintah, apalagi menikmati fasilitas kekuasaan. Menjadi pemimpin berarti mampu memberi manfaat—bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi lingkungan, alam, dan seisi kehidupan yang dititipkan Tuhan di bumi ini.
Jika seekor semut saja mampu menjaga adab hidup, mampu berbagi, mampu hidup dalam keseimbangan, apakah manusia — makhluk yang paling sempurna — tidak malu bila justru hidup dengan kerakusan?
Sudah waktunya kita belajar dari semut.
Penulis:
Syahrial Efendi Nasution. C. BJ.,C.EJ.,C.In.
Pimpinan Umum Bidik Info News
Share Social Media
