Refleksi tentang Terompet, Minyak Gosok, dan Jawaban yang Salah di Alam Kubur
Opini Akhir Tahun | bidikinfonews. xyz /
Setiap pergantian tahun, manusia beramai-ramai bersorak. Kembang api diledakkan, terompet ditiup sekeras mungkin, seolah hidup baru saja dimulai. Padahal, yang sebenarnya terjadi: satu tahun usia kita resmi dipotong—tanpa tanda tangan, tanpa berita acara.
Ironisnya, kita menyebutnya selamat.
Sebagai umat Muslim, seharusnya pergantian tahun disambut dengan was-was dan doa, bukan pesta berlebihan. Karena waktu bukan bonus, melainkan utang yang terus ditagih. Tahun berganti bukan berarti kita makin muda, justru sebaliknya : jatah hidup makin tipis, jarak ke liang lahat makin dekat.
Coba bercermin dengan jujur. Mata mulai rabun, langkah tak lagi stabil, tangan gemetar tanpa aba-aba. Rambut dan gigi mulai pamit baik-baik meninggalkan tubuh. Penyakit datang silih berganti, seperti tamu tak diundang yang tahu alamat rumah kita dengan sangat baik.
Dulu, saat muda, parfum jadi identitas. Ke mana-mana harum. Kini, pelan-pelan parfum digantikan balsem dan minyak gosok. Aromanya berubah : dari wangi duniawi menuju bau kayu-kayuan. Dan jika suatu hari tubuh mulai beraroma tanah—itu bukan metafora lagi, itu peringatan keras.
Namun anehnya, di tengah semua tanda itu, kita masih meniup terompet dan berkata: Happy New Year.
Padahal, di ujung perjalanan nanti, saat jasad sudah dibaringkan di liang lahat, tujuh langkah orang-orang yang mengantar akan meninggalkan kita sendirian. Tak ada kembang api, tak ada countdown. Yang datang justru dua malaikat dengan satu pertanyaan sederhana namun menentukan: “Man rabbuka?”
Bayangkan jika refleks lidah menjawab, “Happy New Year.”
Bukan ucapan balasan yang didapat, melainkan cambukan. Seketika kita “resmi” menjadi penyanyi rock alam kubur—menjerit tanpa mic, dengan irama yang lebih dahsyat dari keyboard hajatan kampung atau musik koro-koro paling keras.
Di situlah kita sadar, bahwa selama ini yang kita rayakan bukan keselamatan, melainkan kelalaian.
Maka sejatinya, tahun baru bukan soal pesta dan euforia. Ia adalah alarm sunyi bahwa waktu terus berjalan, usia terus berkurang, dan kematian tak pernah ikut merayakan apa pun.
Yang benar-benar selamat bukan mereka yang paling meriah menyambut tahun baru, melainkan mereka yang siap ketika tahun itu menjadi yang terakhir.
Catatan Redaksi Bidik Info News
Tulisan ini merupakan refleksi akhir tahun dengan pendekatan satire religius, bertujuan mengingatkan pembaca agar tidak larut dalam euforia semu dan kembali pada kesadaran diri.
Share Social Media

