☝☝▶️▶️ Klik Audionya
Tebing Tinggi | bidikinfonews.xyz – Sumatera Utara, Kekuasaan, sering kali, baru terasa bermakna ketika ia memilih untuk turun dari meja kerja dan berjalan di lorong-lorong sempit kehidupan warga. Di Kelurahan Mandailing, Kecamatan Tebing Tinggi Kota, pertanyaan tentang makna kepemimpinan itu muncul bahkan sebelum sepekan jabatan lurah diemban oleh Yurlisna, S.E.
Tak ada gebyar, tak ada baliho ucapan selamat yang berlebihan. Namun, di ruang-ruang sederhana Kantor Kelurahan Mandailing, perubahan kecil mulai terasa. Administrasi ditata ulang, kebersihan diperhatikan, dan pelayanan perlahan diarahkan agar tak lagi sekadar rutinitas, melainkan tanggung jawab.
Yurlisna bukan orang luar. Ia lahir dan besar di Kampung Kurnia, Lingkungan IV, Kelurahan Mandailing. Tanah ini bukan sekadar wilayah administratif baginya, melainkan ruang ingatan—tempat ia mengenal denyut hidup warga sejak kecil. Pengalamannya sebagai Penyuluh Sosial Ahli Muda di Dinas Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat Kota Tebing Tinggi membentuk cara pandangnya : bahwa kebijakan sering kali berhenti di meja rapat, jauh dari rumah-rumah warga yang seharusnya merasakan dampaknya.
Ia sendiri mengakui, selama berada di instansi sebelumnya, kepedulian tak selalu berbanding lurus dengan kewenangan. Banyak persoalan sosial yang hanya bisa dicatat, bukan diselesaikan. Pelantikan sebagai lurah oleh Wali Kota Tebing Tinggi H. Iman Irdian Saragih, S.E, pada 18 Desember 2025, menjadi momen ketika kepedulian itu mendapat ruang untuk diuji.
“Tidak boleh ada warga yang merasa sendirian di hadapan negara,” ujar Yurlisna singkat, sebuah kalimat sederhana yang menyimpan beban tanggung jawab panjang.
Refleksi tentang kepemimpinan itu kemudian diuji bukan lewat pidato, melainkan langkah. Pada Rabu, 24 Desember 2025, Yurlisna memilih turun langsung menyalurkan bantuan sosial pemerintah. Sebanyak 36 paket bantuan diantarkan dari pintu ke pintu, menyusuri gang-gang dan rumah warga Kelurahan Mandailing yang selama ini jarang disebut dalam laporan.
Penerima bantuan dipilih dengan kriteria yang sunyi dari sensasi: warga yang belum pernah tersentuh bantuan, mereka yang hidup dalam kerentanan ekonomi, serta masyarakat yang bermukim di sekitar Daerah Aliran Sungai (DAS) Bahilang—wilayah yang kerap hadir hanya saat banjir atau masalah datang.
Bagi sebagian orang, langkah ini mungkin terlihat kecil. Namun dalam tata kelola pemerintahan yang kerap berjarak dengan warganya, kehadiran pemimpin di depan pintu rumah warga adalah pesan simbolik yang kuat: negara tidak selalu harus menunggu dipanggil.
Yurlisna juga mengingatkan para calon Kepala Lingkungan agar jabatan tidak dipahami sebagai kuasa, melainkan amanah. Sebab, di tingkat paling bawah pemerintahan, satu keputusan bisa menentukan apakah seseorang mendapat bantuan, atau kembali terlewat tanpa suara.
Apakah langkah-langkah awal ini akan bertahan melewati rutinitas dan tekanan birokrasi, publik belum tahu. Sejarah pemerintahan lokal terlalu sering dipenuhi harapan yang layu sebelum berbuah. Namun setidaknya, di Mandailing, kepemimpinan baru telah dimulai dengan satu kesadaran penting: bahwa kehadiran pemimpin bukan diukur dari lamanya jabatan, melainkan dari sejauh mana ia mau mendengar dan melihat.
Dan barangkali, di situlah pemerintahan paling manusiawi bermula.
Share Social Media