Oleh: Syahrial Efendi Nasution
Pimpinan Umum Bidik Info News
Di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin bising oleh ambisi, jabatan, dan angka-angka statistik keberhasilan, satu kata tetap berdiri sunyi namun pasti: kematian. Ia tidak berisik, tidak memaksa, tetapi selalu datang tepat waktu. Tidak pernah terlambat, apalagi bisa ditawar.
Kematian sering kita pahami secara dangkal sebagai berhentinya napas, terhentinya detak jantung, atau terbaringnya jasad di balik kain kafan. Padahal, kematian jauh melampaui urusan medis dan biologis. Ia adalah peristiwa eksistensial, momen paling jujur yang memisahkan antara kepura-puraan dunia dan kebenaran akhir kehidupan.
Definisi Kematian: Saat Semua Gelar Gugur
Kematian adalah saat semua titel runtuh. Tidak ada lagi pejabat, tokoh, orang kaya, atau orang miskin. Yang ada hanya manusia dan amalnya. Kematian mendefinisikan ulang siapa kita sebenarnya—bukan berdasarkan apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita tinggalkan.
Di hadapan kematian, kekuasaan menjadi rapuh, harta menjadi bisu, dan popularitas kehilangan makna. Ia menegaskan satu hal: hidup bukan soal seberapa lama kita ada, tetapi seberapa bermakna jejak yang kita torehkan.
Kematian sebagai Cermin Kehidupan
Ironisnya, manusia justru paling takut membicarakan kematian, padahal ia adalah cermin paling jujur tentang kehidupan. Dari cara seseorang meninggal, sering kali tergambar bagaimana ia hidup: apakah ia pergi dengan tenang, atau meninggalkan luka; apakah namanya disebut dalam doa, atau hanya dibicarakan sebagai pelajaran pahit.
Kematian tidak menakutkan karena ia datang, melainkan karena kita sering belum siap saat ia tiba. Kita sibuk menumpuk dunia, tapi lupa menabung bekal untuk pulang.
Antara Takut Mati dan Lupa Hidup
Di zaman sekarang, kematian sering diperlakukan sebagai gangguan. Ia dianggap merusak pesta, mengganggu rutinitas, bahkan dianggap “tidak relevan” dengan gaya hidup modern. Kita merayakan ulang tahun dengan kembang api, tetapi jarang merenungi berkurangnya usia. Kita menghitung tahun bertambah, namun lupa bahwa waktu justru berkurang.
Padahal, kesadaran akan kematian seharusnya membuat manusia lebih rendah hati, lebih adil, dan lebih berhati-hati dalam bertindak—terutama bagi mereka yang diberi amanah kekuasaan dan kepercayaan publik.
Kematian: Titik Akhir Dunia, Awal Keabadian
Dalam perspektif iman, kematian bukanlah akhir cerita. Ia adalah gerbang. Dunia hanyalah ruang ujian, sementara kematian adalah bel yang menandai ujian telah selesai. Tidak ada remedial, tidak ada perbaikan nilai. Yang ada hanya hasil.
Maka, kematian sesungguhnya bukan milik orang yang wafat, melainkan peringatan bagi yang masih hidup. Ia datang bukan untuk ditakuti, tetapi untuk disadari.
Penutup: Belajar Hidup dari Kematian
Jika kematian saja tidak bisa kita hindari, mengapa kebaikan sering kita tunda? Jika hidup begitu singkat, mengapa kita begitu sibuk saling menjatuhkan?
Kematian mengajarkan satu pelajaran paling sederhana namun sering kita abaikan:
hidup ini sementara, tanggung jawab itu abadi.
Dan pada akhirnya, yang akan dikenang bukan bagaimana kita mati, tetapi bagaimana kita hidup sebelum kematian itu datang menjemput.
Share Social Media
