Mandailing Natal | bidikinfonews.xyz – Senin 8/6/2026, Kondisi jaringan komunikasi dan telekomunikasi di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, hingga saat ini masih sangat memprihatinkan. Sinyal seluler dan akses internet sering kali hilang-timbul, tidak stabil, serta kualitasnya sangat buruk dan tidak memadai di hampir seluruh wilayah, terutama di daerah pinggiran, pedalaman, dan kecamatan-kecamatan jauh dari pusat kabupaten.
Kondisi ini tidak hanya menyulitkan aktivitas sehari-hari warga, tetapi menjadi bukti nyata bahwa pembangunan infrastruktur dasar di daerah ini masih sangat tertinggal, tidak merata, dan jauh tertinggal dibandingkan daerah lain di Sumatera Utara, bahkan dibandingkan kabupaten/kota tetangga.
Banyak warga mengeluhkan bahwa untuk melakukan panggilan telepon sederhana saja sering kali sulit tersambung, terputus di tengah pembicaraan, atau harus berpindah tempat berkali-kali hanya untuk mendapatkan satu batang sinyal.
Akses internet pun sangat lambat, sulit untuk membuka aplikasi, mengirim pesan, atau mengakses informasi penting. Hal ini dirasakan sangat berat oleh pelajar yang harus belajar daring, pedagang yang butuh jaringan untuk transaksi dan pemasaran, hingga warga biasa yang membutuhkan komunikasi darurat atau layanan publik daring.
Kondisi ini menunjukkan adanya kelalaian dan kurangnya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun instansi terkait, baik dari Dinas Komunikasi dan Informatika, maupun pihak penyedia layanan telekomunikasi.
Padahal, pembangunan jaringan komunikasi adalah kebutuhan dasar dan hak seluruh warga, serta menjadi tulang punggung kemajuan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik. Ketimpangan pembangunan ini membuat Mandailing Natal semakin tertinggal, sulit bersaing, dan warganya terpinggirkan dari kemajuan zaman.
Pemerintah daerah dinilai belum tegas dalam menuntut tanggung jawab perusahaan telekomunikasi untuk memperluas jangkauan dan meningkatkan kualitas layanan, serta belum memiliki program kerja nyata dan terukur untuk pemerataan infrastruktur.
Padahal, anggaran pembangunan seharusnya dialokasikan dan diprioritaskan agar tidak hanya terpusat di ibu kota kabupaten saja, tapi merata hingga ke desa-desa terpencil.
Akibatnya, masyarakatlah yang paling merugi. Mereka harus menanggung ketidaknyamanan, kerugian ekonomi, hambatan pendidikan, hingga risiko keselamatan ketika butuh bantuan darurat namun tidak bisa berkomunikasi.
Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan, melakukan evaluasi menyeluruh, menindak tegas pihak yang lalai, dan menyusun rencana aksi nyata agar jaringan komunikasi di Mandailing Natal segera membaik, merata, dan dapat dinikmati semua warga tanpa terkecuali. Jika hal ini terus dibiarkan, jurang ketertinggalan daerah ini akan semakin lebar dan sulit dikejar di masa depan.
( BINews / AR.Nst )
Share Social Media