Allah bahkan telah mengingatkan dengan tegas dalam Surat Ar-Rum ayat 41:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia; supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Ayat ini bukan sekadar peringatan—tetapi cermin. Cermin untuk kita bercermin apakah kita masih menjalankan amanah sebagai penjaga bumi atau justru menjadi perusaknya.
Perumpamaan sederhana bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ketika secangkir kopi susu diletakkan, Oleh Pimpinan Umum Media Bidik Info News, semut tidak serta-merta merubunginya. Semut menunggu hak pertama yang telah ditetapkan untuk manusia. Barulah setelahnya, ketika manusia lalai menyisakan titipan rezeki Tuhan itu, semut pun mendekat dengan adab dan keteraturan.
Di sini tersimpan pelajaran penting: menjadi pemimpin bukan tentang memerintah, apalagi menikmati fasilitas kekuasaan. Menjadi pemimpin berarti mampu memberi manfaat—bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi lingkungan, alam, dan seisi kehidupan yang dititipkan Tuhan di bumi ini.
Jika seekor semut saja mampu menjaga adab hidup, mampu berbagi, mampu hidup dalam keseimbangan, apakah manusia — makhluk yang paling sempurna — tidak malu bila justru hidup dengan kerakusan?
Sudah waktunya kita belajar dari semut.
Penulis:
Syahrial Efendi Nasution. C. BJ.,C.EJ.,C.In.
Pimpinan Umum Bidik Info News
Share Social Media