Ironisnya, sebagian dari mereka juga tidak gemar membaca. Sehingga, keterampilan menulis yang mestinya diasah dari literasi menjadi kering dan pincang. Bagaimana mungkin mengurai fakta, membedah kebijakan, atau menganalisis fenomena sosial, jika wawasan yang mereka punya hanya setipis catatan singkat di grup chat? Membaca adalah jantung dari menulis; tanpa membaca, pena wartawan kehilangan denyutnya.
Sindiran ini bukan sekadar kritik kosong. Ini panggilan bagi mereka yang bergelar wartawan: KTA tidak otomatis menciptakan wartawan yang mumpuni. Seorang jurnalis sejati lahir dari disiplin, rasa ingin tahu, dan ketekunan menulis—bukan dari status formal semata. Mengingatkan kita bahwa tanggung jawab moral lebih penting daripada gengsi administrasi.
Di era di mana informasi menjadi mata uang sosial, ketidakmampuan menulis berarti memberi ruang bagi kekosongan berita, hoaks, dan kebodohan yang terselubung sebagai fakta. Maka, mari kita hargai KTA dengan cara yang benar: menulis, membaca, dan mempraktikkan kode etik jurnalistik secara nyata, bukan hanya formalitas.
KTA hanyalah pintu; literasi adalah jalan yang harus dilalui. Tanpa itu, wartawan bukan pelapor fakta, melainkan penonton diam di tepi arus informasi.
( Binews )
Share Social Media