Sinunukan | bidikinfonews.xyz — Ada pemandangan yang mungkin terasa biasa, tetapi sebenarnya menyimpan pertanyaan besar pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Senin (17/8/2026).
Ketika berbagai tempat sibuk menggelar upacara, karnaval, perlombaan dan mengibarkan bendera Merah Putih, Pemerintah Desa Wonosari, Kecamatan Sinunukan,kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, bersama masyarakat justru masih harus berjibaku menimbun jalan yang rusak dan berlubang.
Bukan sedang membangun jalan baru. Bukan pula sedang membuat proyek monumental. Warga hanya ingin satu hal sederhana: jalan yang bisa dilewati dengan nyaman tanpa harus bermain zig-zag menghindari lubang.
Lokasi jalan yang diperbaiki berada di jalur depan SMA Negeri 1 Sinunukan menuju Kantor Korwil Sinunukan. Kondisi jalan yang sebelumnya rusak dan berlubang ditimbun menggunakan material sirtu yang diangkut dengan beberapa kendaraan.

Kepala Desa Wonosari, Ahmad Rudianto, mengatakan kegiatan tersebut dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan pemerintah desa dan masyarakat.
“Kegiatan penimbunan jalan yang hancur dan berlubang ini sudah kita lakukan menggunakan bahan sirtu yang diangkut menggunakan beberapa mobil. Alhamdulillah saat ini kondisi jalan sudah membaik dan sudah dapat dilalui dengan baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Perbaikan ini kami laksanakan melalui semangat gotong royong, berbaur antara pemerintah desa dan masyarakat bersama-sama bahu-membahu bekerja,” ujar Ahmad Rudianto.
Semangat gotong royong tentu patut diapresiasi. Di tengah berbagai kesibukan memperingati kemerdekaan, kepala desa bersama masyarakat masih mau turun langsung menyelesaikan persoalan yang menyentuh kebutuhan dasar warga.
Namun, justru di sinilah pertanyaan kecil mulai muncul.
Kalau sudah 81 tahun Indonesia merdeka, mengapa urusan jalan berlubang masih harus diselesaikan dengan gotong royong warga pada hari kemerdekaan?
Pertanyaan ini tentu bukan untuk mematikan semangat gotong royong. Sebaliknya, gotong royong adalah warisan luhur bangsa yang harus dipertahankan.
Tetapi jangan sampai semangat gotong royong justru berubah menjadi semacam “sistem pelayanan jalan versi swadaya” : jalan rusak, warga turun tangan; jalan berlubang, warga patungan tenaga; sementara pertanyaan tentang siapa yang seharusnya lebih dulu memastikan infrastruktur dasar tetap baik malah ikut berlubang.
Ironisnya lagi, kegiatan tersebut berlangsung tepat pada momentum HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Di satu sisi, masyarakat merayakan kemerdekaan.
Di sisi lain, masyarakat masih harus “memerdekakan” jalan dari penjajahan lubang.
Kalau lubang jalan bisa bicara, mungkin ia akan bertanya: “Kapan saya juga mendapatkan kemerdekaan?”
Camat, hingga Bupati: Merdeka Itu Bukan Sekadar Upacara.
Kegiatan yang dilakukan Pemerintah Desa Wonosari dan masyarakat ini seharusnya menjadi catatan bagi pemerintah di atasnya, mulai dari pemerintah kecamatan hingga pemerintah kabupaten.
Bukan untuk mencari siapa yang salah.
Namun, bukankah kemerdekaan juga berarti masyarakat berhak memperoleh fasilitas umum yang layak?
Bukankah jalan merupakan salah satu urat nadi aktivitas masyarakat?
Dan bukankah pemerintah memiliki tanggung jawab untuk memastikan pembangunan tidak hanya terlihat dalam baliho, spanduk dan seremoni, tetapi juga terasa ketika masyarakat menggunakan jalan setiap hari?
Mungkin ada keterbatasan anggaran, kewenangan, skala prioritas maupun prosedur pembangunan. Semua itu tentu dapat dipahami.
Tetapi masyarakat juga berhak bertanya.
Apakah jalan seperti ini sudah masuk daftar perhatian pemerintah kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Mandailing Natal?
Kalau belum, mungkin kegiatan gotong royong Desa Wonosari hari ini bisa menjadi alarm kecil.
Bukan alarm kebakaran.
Bukan pula alarm pergantian pejabat.
Melainkan alarm bahwa ada jalan yang membutuhkan perhatian.
Gotong Royong: Kebanggaan atau Tamparan?
Apa yang dilakukan warga Wonosari sebenarnya adalah wajah Indonesia yang sesungguhnya : ketika ada persoalan, masyarakat tidak selalu menunggu.
Mereka turun tangan.
Kepala desa ikut bekerja.
Masyarakat ikut membantu.
Material didatangkan.
Jalan ditimbun.
Persoalan selesai—setidaknya untuk sementara.
Tetapi jangan sampai semangat seperti ini malah menjadi alasan pemerintah untuk berkata, “Masyarakat sudah bisa mengatasi sendiri.”
Kalau begitu, nanti jangan heran jika suatu hari masyarakat membuat sendiri sekolah, jembatan, drainase, penerangan jalan, bahkan kantor pemerintahan.
Lalu pemerintah tinggal datang untuk menggunting pita.
Tentu saja itu hanya sindiran.
Namun, sindiran tersebut muncul karena masyarakat membutuhkan pembangunan yang nyata, bukan sekadar seremoni.
Makna Kemerdekaan Sesungguhnya.
Kemerdekaan bukan hanya tentang mengibarkan Merah Putih setinggi-tingginya.
Bukan hanya tentang upacara.
Bukan hanya tentang lomba panjat pinang dan tarik tambang.
Kemerdekaan juga tentang bagaimana masyarakat dapat menjalani kehidupan dengan aman, nyaman dan mendapatkan pelayanan publik yang layak.
Jalan yang baik mungkin terlihat sederhana.
Tetapi bagi masyarakat desa, jalan adalah akses menuju sekolah, tempat bekerja, pusat pelayanan kesehatan, pasar dan berbagai aktivitas kehidupan.
Karena itu, semangat gotong royong warga Wonosari patut diapresiasi sekaligus dijadikan cermin bagi pemerintah.
Cermin itu sederhana.
Di dalamnya terlihat kepala desa dan masyarakat sedang bekerja memperbaiki jalan pada hari kemerdekaan.
Pertanyaannya tinggal satu:
Apakah pemerintah di atasnya juga melihat cermin yang sama?
Semoga ke depan, masyarakat tetap bergotong royong karena kecintaan dan kebersamaan, bukan karena merasa tidak punya pilihan lain.
Dan semoga HUT RI ke-82 nanti, warga Wonosari tidak lagi sibuk menimbun lubang yang sama. Sebab Indonesia sudah merdeka 81 tahun. Jangan sampai jalannya masih meminta kemerdekaan.
Sumber berita : Koorwil BIN Madina, AR.Nst
Share Social Media