
Bekasi | bidikinfonews.xyz / – Setelah sempat vakum, Yayasan Resi Kobra kembali menunjukkan eksistensinya dengan menggelar rapat perdana Dewan Pengurus Pusat (DPP) dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan, Kamis (16/04/2026). Pertemuan ini menjadi penanda kebangkitan organisasi dalam menghidupkan kembali misi kemanusiaan, khususnya di bidang rehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba.
Ketua Umum DPP Yayasan Resi Kobra, Nyai Sekar Jingga, menegaskan bahwa kembalinya aktivitas yayasan dilandasi keprihatinan mendalam terhadap masih tingginya angka korban penyalahgunaan narkoba yang membutuhkan penanganan serius dan berkelanjutan.
“Kami tidak bisa tinggal diam. Masih banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan uluran tangan. Kehadiran yayasan ini adalah bentuk tanggung jawab moral untuk menjawab persoalan tersebut,” tegasnya.
Dalam rapat tersebut, jajaran pengurus membahas arah strategis program kerja ke depan, termasuk upaya memperkuat sinergi dengan berbagai pihak seperti instansi pemerintah, kepolisian, dinas sosial, hingga komunitas masyarakat. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci untuk memperluas jangkauan layanan serta meningkatkan efektivitas program rehabilitasi.
Sekretaris Jenderal DPP, Kang Irfan, menyampaikan bahwa program kerja telah disusun secara sistematis dan terukur, dengan fokus pada koordinasi lintas divisi agar pelaksanaan di lapangan berjalan optimal dan tepat sasaran.
Sementara itu, Ketua Divisi Srikandi, Bunda Lies, menekankan pentingnya pendekatan berbasis keluarga dalam proses pemulihan korban. Menurutnya, peran perempuan—khususnya sentuhan keibuan—memiliki pengaruh besar dalam memberikan dukungan emosional yang dibutuhkan para korban.
“Pemulihan bukan hanya soal fisik, tetapi juga menyentuh aspek psikologis dan emosional. Di sinilah peran keluarga, terutama perempuan, menjadi sangat penting,” ujarnya.
Dukungan moral juga datang dari Ketua DPW TTKKBI Kota Bekasi, Brian May, yang menyoroti pentingnya menjaga tiga pilar utama dalam gerakan sosial, yakni kolaborasi, sinergi, dan konsistensi.
“Tanpa konsistensi, program sebaik apa pun tidak akan memberi dampak nyata. Kolaborasi dan sinergi harus terus dijaga agar gerakan ini berkelanjutan,” katanya.
Dari rapat tersebut, sejumlah keputusan strategis berhasil dirumuskan, di antaranya penguatan struktur organisasi, penyusunan program rehabilitasi berbasis komunitas, penjajakan kerja sama lintas sektor, serta penguatan nilai spiritual dan moral dalam setiap aktivitas yayasan.
Dengan semangat baru, Yayasan Resi Kobra berkomitmen menjadi wadah pemulihan yang tidak hanya berfokus pada aspek fisik dan mental, tetapi juga menyentuh pemulihan sosial, membangun kembali kepercayaan diri, serta mengangkat martabat para korban agar mampu kembali berdaya dan berperan aktif di tengah masyarakat.
Komitmen tersebut dirangkum dalam pesan sederhana namun sarat makna: “Satu langkah hari ini dapat menjadi penyelamat bagi kehidupan di masa depan.”
Di tempat terpisah, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Media Independen Online (MIO) Indonesia, Taufiq Rachman, S.H., M.H., turut mengapresiasi kebangkitan Yayasan Resi Kobra. Menurutnya, langkah tersebut sangat strategis dan membuka peluang besar untuk kolaborasi ke depan.
“Ini langkah yang sangat positif. Ke depan, sinergi antara yayasan dan berbagai pihak, termasuk media, diharapkan dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.
Sebagai informasi, dunia jurnalistik bukanlah hal baru bagi Nyai Sekar Jingga. Ia pernah menjadi bagian dari pengurus pusat Ikatan Penulis Jurnalis Indonesia (IPJI), yang menjadi salah satu modal penting dalam membangun jejaring komunikasi dan publikasi kegiatan yayasan.
Sumber berita : (Rel/Humas Kobra)
Binews
Share Social Media
