Kepala Bidang Penataan, Pendataan dan Peningkatan Kapasitas (P2PK) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tebing Tinggi, Fanhas Syahputra, ST, ( Pencipta Alat Inovasi Unit Transportir Sampah UTS ) 

TEBING TINGGI |BINews— Berangkat dari rasa prihatin terhadap beratnya pekerjaan petugas kebersihan di lapangan, Kepala Bidang Penataan, Pendataan dan Peningkatan Kapasitas (P2PK) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tebing Tinggi, Fanhas Syahputra, ST, menghadirkan inovasi berupa Unit Transportir Sampah (UTS) untuk membantu proses pengangkutan sampah di Tempat Pembuangan Sementara (TPS).

Kepada awak media Bidik Info News, Rabu (14/10/2026), Fanhas menjelaskan bahwa inovasi tersebut berawal dari keprihatinannya melihat petugas kebersihan yang harus bekerja ekstra keras saat memindahkan sampah menggunakan peralatan konvensional.

Selama ini, petugas di lapangan harus menggunakan alat seperti cakar sampah dan keranjang bambu untuk mengangkut sampah dari TPS. Proses tersebut membutuhkan tenaga besar, terlebih ketika sampah harus diangkat ke ketinggian sekitar 2,1 hingga 2,4 meter dengan beban yang diperkirakan mencapai 20–30 kilogram.

Kondisi itu mendorong Fanhas mencari cara agar pekerjaan petugas kebersihan menjadi lebih ringan, efektif, dan efisien.

“Awalnya saya merasa prihatin melihat teman-teman di lapangan. Pekerjaan mereka cukup berat karena harus mengangkat sampah secara manual. Dari situ saya berpikir bagaimana caranya agar pekerjaan mereka bisa lebih mudah dan tidak terlalu menguras tenaga,” ungkap Fanhas.

Manfaatkan Kendaraan Bekas Menjadi Sarana Pengangkut Sampah. 

Dalam mengembangkan inovasi tersebut, Fanhas memanfaatkan kendaraan roda tiga jenis Viar yang sebelumnya sudah rusak dan tersimpan di gudang kantor.

Kendaraan itu kemudian diperbaiki di bengkel hingga dapat kembali beroperasi. Setelah itu, Fanhas memasang dan menyesuaikan unit UTS pada kendaraan tersebut agar dapat digunakan untuk membantu mobilisasi serta pengangkutan sampah.

Menurutnya, pemanfaatan kendaraan yang sebelumnya tidak berfungsi merupakan salah satu upaya menghadirkan inovasi sederhana dengan biaya yang lebih hemat.

Dengan adanya UTS, petugas diharapkan tidak lagi terlalu bergantung pada proses pengangkatan sampah secara manual yang membutuhkan tenaga besar dan waktu lebih lama.

Fanhas mengatakan, berdasarkan penggunaan di lapangan, inovasi tersebut mendapat respons positif dari para petugas kebersihan. Bahkan, sejumlah petugas menyampaikan bahwa metode tersebut seharusnya sudah diterapkan sejak lama karena dinilai dapat mempermudah pekerjaan mereka.

Masyarakat yang membuang sampah ke TPS juga memberikan apresiasi ketika melihat penggunaan alat tersebut.

Pengelolaan Sampah Harus Dimulai dari Rumah Tangga.

Selain berfokus pada penanganan sampah di TPS, Fanhas menegaskan bahwa persoalan sampah tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan petugas kebersihan. Peran serta masyarakat, khususnya dalam memilah sampah sejak dari rumah tangga, juga sangat diperlukan.

Ia menjelaskan bahwa pengelolaan sampah secara umum mencakup dua aspek, yakni pengurangan dan penanganan sampah. Upaya tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari sumber sampah hingga proses pengangkutan dan pengolahan akhir.

Menurut Fanhas, sampah organik sebaiknya dipisahkan dari sampah anorganik sejak dari rumah. Sampah organik yang masih dapat dimanfaatkan bisa diolah menjadi kompos atau digunakan sebagai pakan ternak sesuai kelayakannya.

Sementara itu, sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dapat disalurkan melalui bank sampah maupun sektor informal untuk didaur ulang dan dimanfaatkan kembali.

Dengan pemilahan sejak dari sumbernya, volume sampah yang dibawa ke TPS diharapkan dapat dikurangi sehingga penanganan sampah menjadi lebih efektif.

“Kalau sampah sudah dipilah sejak dari rumah, sampah yang dibawa ke TPS tentu bisa dikurangi. Karena itu, pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan masyarakat, bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan,” jelasnya.

Berharap Inovasi UTS Dapat Dikembangkan. 

Fanhas berharap inovasi Unit Transportir Sampah tersebut dapat dikembangkan dan, apabila memungkinkan, dibuat dalam jumlah lebih banyak sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak petugas kebersihan.

Baginya, inovasi tidak harus selalu berasal dari teknologi yang mahal. Pemanfaatan peralatan yang sudah tidak terpakai, apabila dapat diolah kembali dengan tepat, juga bisa menjadi solusi untuk menjawab persoalan di lapangan.

Ia menegaskan bahwa sebagai aparatur sipil negara (ASN), dirinya berupaya menjalankan tugas dan tanggung jawab sesuai dengan tugas pokok dan fungsi, mengedepankan integritas serta profesionalisme, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Kalau ke depannya UTS ini bisa diperbanyak, alhamdulillah. Harapannya tentu dapat meringankan pekerjaan teman-teman di lapangan. Namun, kalaupun saat ini baru satu unit, saya bersyukur sudah bisa melakukan sesuatu yang bermanfaat sebagai bentuk inovasi dalam penanganan sampah,” tutup Fanhas.

Inovasi UTS ini diharapkan menjadi salah satu langkah pendukung dalam meningkatkan efektivitas penanganan sampah di Kota Tebing Tinggi, sekaligus mengingatkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat.

( Red )

Share Social Media
0Shares

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

error: Plagiat tidak di Izinkan sorry ya..!?