Refleksi Moral dari Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Oleh: Pimpinan Umum Media Bidik Info News.Syahrial Efendi Nasution.

👆👆 ▶️ Klik Audio

Di tengah dunia yang bising oleh pencitraan dan ambisi status, suara jernih dari kota kecil Tebing Tinggi mengajak kita merenung. Lewat refleksi moralnya, Syahrial Efendi Nasution menyampaikan pesan sederhana namun mendalam:

“Lebih baik merendah di puncak gunung, daripada meninggi di tempat yang rendah.”

Ungkapan ini bukan sekadar kata-kata indah, melainkan sindiran tajam terhadap fenomena sosial saat ini—di mana banyak yang belum berbuat tapi sudah merasa paling tahu. Mereka sibuk membangun citra tanpa isi, kadang bahkan menumpang nama dari kerja keras orang lain.

Puncak dan Dasar dalam Konteks Sosial

Merendah di puncak berarti tetap rendah hati meski berada di posisi tinggi. Sementara meninggi di dasar menggambarkan mereka yang belum punya pencapaian, tapi sudah tinggi hati.

“Banyak yang pintar, tapi sedikit yang tahu diri. Yang paling bersuara, belum tentu yang paling berjasa,” ujar Syahrial.

Kepemimpinan yang Membumi.

Syahrial mengingatkan, jabatan bukan tempat untuk membesarkan ego, tapi ladang pengabdian. Dalam budaya Batak dan Melayu Deli, pemimpin sejati adalah yang dekat dengan rakyat dan tak lupa akar.

“Semakin tinggi pohon, semakin besar angin menerpa. Semakin besar nama, semakin berat tanggung jawab.”

Antara Emas Sejati dan Kemilau Palsu.

Di era digital, kemasan sering lebih dipuja daripada isi. Banyak yang tampak bijak di media sosial, tapi hidupnya tak mencerminkan nilai yang dibagikan. Syahrial menegaskan, emas tetap emas, meski tertutup lumpur. Nilai sejati tak butuh sorotan.

Menjaga Etika, Menjaga Hati.

Tebing Tinggi menjadi contoh bahwa kerendahan hati masih hidup dalam komunitas. Tapi, perlahan, nilai ini mulai tergerus. Maka, penting untuk terus menghidupkan etika dalam keseharian—lebih penting dari sekadar gelar atau tampilan digital.

“Kemajuan teknologi jangan sampai menggerus nilai kemanusiaan. Sebelum ada gawai, ada etika dan empati.”

Penutup: Sebuah Ajakan.

“Merendah di puncak, bukan meninggi di dasar” adalah ajakan moral untuk tetap membumi dalam segala pencapaian. Karena yang paling tinggi bukan yang paling mencolok, tapi yang tetap kuat berpijak meski berada di atas.

Semoga pesan dari Tebing Tinggi ini menjadi cermin bagi kita semua—untuk hidup lebih jujur, rendah hati, dan bermakna.

( BINews )

 

Share Social Media
0Shares

By Redaksi

Tinggalkan Balasan

error: Plagiat tidak di Izinkan sorry ya..!?