Bidik info News.xyz| Kamis,26 Juni 2025.
Wartawan itu bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah sebuah profesi.
👆👆▶️ Klik Audio
Ketika profesi wartawan disalahgunakan hanya sekadar menjadi pekerjaan untuk mencari sesuap nasi tanpa mengindahkan etika, nilai, dan marwah jurnalistik, maka saat itu pula hilanglah kehormatan seseorang untuk disebut sebagai wartawan profesional.
Sebagaimana ucapan seorang senior pers, Aliman, asal Limpul Aman, yang mengatakan,
“Ketika profesi wartawan diselewengkan menjadi pekerjaan semata, maka hilanglah kadar kehormatan seorang wartawan sejati.”
Ucapan ini seakan menjadi tamparan keras bagi mereka yang hari ini mengaku wartawan namun hanya berorientasi pada amplop. Mereka lebih sibuk mengejar uang Limpul (uang sogokan atau gratifikasi), daripada menjalankan fungsi kontrol sosial, menyuarakan kebenaran, dan membela kepentingan publik.
Tak heran, ketika kemudian para pelaku koruptor, para pejabat nakal, bahkan oknum aparat, kerap memandang sebelah mata profesi wartawan. Mereka menilai bahwa wartawan mudah dibeli, mudah dibungkam, dan mudah diarahkan. Namun ingat, tidak semua wartawan bisa disuap dengan uang limpul !
Masih ada wartawan yang menjunjung tinggi kode etik jurnalistik, yang menulis dengan hati nurani, yang rela berjalan di jalan sunyi demi menjaga marwah kebenaran. Mereka adalah benteng terakhir suara rakyat, yang tak tergoyahkan oleh godaan materi.
Profesi wartawan adalah amanah. Di pundak mereka ada beban moral untuk terus menggali fakta, menyuarakan keadilan, dan menjaga agar demokrasi tetap berjalan. Menjadi wartawan itu bukan soal seberapa tebal amplop yang diterima, tapi seberapa besar kontribusi mereka terhadap peradaban dan keadilan sosial.
Hari ini, dunia pers sedang menghadapi tantangan besar. Antara wartawan yang sungguh-sungguh dengan wartawan yang hanya bermodal ID card, yang wara-wiri mengejar berita dengan embel-embel ‘konfirmasi’, padahal tujuannya bukan lagi untuk publik, melainkan untuk kepentingan kantong pribadi.
Oleh sebab itu, sebagai insan pers yang bermartabat, kita wajib mengingatkan diri sendiri dan sesama, bahwa wartawan bukan tukang catat, bukan tukang kutip, dan bukan tukang minta. Wartawan adalah profesi terhormat yang tugasnya menjadi mata, telinga, dan suara masyarakat.
Jangan marah kepada para koruptor jika mereka memandang rendah profesi kita. Marahlah kepada diri sendiri jika kita membiarkan profesi wartawan terjun bebas menjadi sekadar pekerjaan yang bisa dibeli.
Karena ingat, integritas itu tidak dijual, dan kebenaran tidak bisa di sewa.
Oleh : Syahrial Efendi Nasution
Pimpinan Umum Media Bidik Info News
Share Social Media